neuroscience empati

apa yang terjadi di otak saat kita mulai mengerti posisi musuh

neuroscience empati
I

Pernahkah kita terjebak dalam sebuah perdebatan yang luar biasa panas? Entah itu adu argumen soal politik di grup WhatsApp keluarga, atau beda pendapat tajam dengan rekan kerja di kantor. Di momen itu, orang di seberang meja tidak lagi terlihat seperti rekan. Mereka berubah wujud menjadi rintangan. Menjadi musuh. Darah kita seakan mendidih. Jantung berdegup lebih kencang. Kita merasa kitalah yang paling benar dan mereka sangat salah. Tapi, pernahkah teman-teman mengalami momen yang janggal namun magis setelahnya? Sebuah momen ketika amarah itu perlahan surut, lalu tiba-tiba kita bisa melihat masalah dari kacamata mereka. Kita mulai paham mengapa mereka bersikap menyebalkan. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam kepala kita saat pergolakan drastis itu terjadi?

II

Untuk memahami kekacauan ini, kita perlu mundur sejenak ke masa lalu. Otak manusia pada dasarnya dirancang untuk bertahan hidup di alam liar, bukan untuk memenangkan debat kusir. Saat kita merasa diserang—meskipun hanya secara verbal—otak kita tidak bisa membedakannya dengan serangan hewan buas. Sebuah struktur kecil berbentuk almond di otak kita yang bernama amygdala langsung menyalakan alarm tanda bahaya. Mode fight or flight (lawan atau lari) pun aktif. Hormon stres membanjiri tubuh. Di fase ini, sangat wajar jika kita menjadi buta huruf terhadap sudut pandang orang lain. Sepanjang sejarah umat manusia, mekanisme pertahanan sederhana inilah yang memicu perang antarbangsa. Kita secara otomatis membelah dunia menjadi dua kubu ekstrem: "kelompok kita" yang suci, dan "kelompok mereka" yang berbahaya. Namun, jika otak kita sekaku itu, bagaimana peradaban bisa bertahan sampai hari ini? Bagaimana bisa dua musuh bebuyutan pada akhirnya mau duduk bersama di meja perundingan?

III

Pasti ada sebuah jembatan tak kasat mata di dalam tengkorak kita. Sebuah sakelar rahasia yang mampu meredam bisingnya alarm amygdala tadi. Saya sering merenungkan ini. Apa yang sebenarnya terjadi dalam sepersekian detik sebelum bibir kita berucap, "Oh, saya mengerti maksudmu"? Apakah transisi itu murni karena kita sedang ingin berbaik hati? Atau jangan-jangan, ada sebuah reaksi biokimia yang sangat rumit, yang diam-diam bekerja memaksa ego kita untuk bertekuk lutut? Selama bertahun-tahun, fenomena ini menjadi misteri bagi para ilmuwan. Berpindah dari titik "membenci" menuju "mengerti" jelas bukan sekadar perubahan suasana hati biasa. Ada sebuah atraksi akrobatik saraf yang sedang bersiap untuk tampil. Pertunjukannya sangat megah, sekaligus sangat menguras energi.

IV

Di sinilah rahasia besarnya terungkap. Saat kita mulai mencoba memahami posisi lawan kita, otak kita sebenarnya sedang menjalankan mesin simulasi realitas virtual tingkat tinggi. Di momen krusial ini, sebuah area otak bernama Temporoparietal Junction (TPJ) mengambil alih kendali. TPJ adalah pusat empati kognitif kita. Area ini memaksa kita untuk keluar dari kepala kita sendiri. Kita secara harfiah sedang meretas pikiran kita untuk memakai sepatu musuh kita. Namun keajaibannya tidak berhenti di situ. Saat kita akhirnya menyadari rasa sakit emosional atau ketakutan lawan bicara kita, dua area lain bernama Anterior Insula dan Anterior Cingulate Cortex ikut menyala terang. Menariknya, ini adalah area otak yang sama persis yang aktif saat kita mengalami luka fisik. Otak kita juga dibekali dengan mirror neurons atau neuron cermin. Artinya, saat kita benar-benar mengerti penderitaan musuh kita, otak kita meniru dan ikut merasakan rasa sakit tersebut. Rasa sakit mereka, secara biologis, menjadi rasa sakit kita. Empati ternyata bukanlah sekadar konsep moral yang diajarkan di sekolah. Empati adalah pengalaman fisik yang nyata.

V

Fakta ilmiah ini benar-benar mengubah cara saya memandang sebuah resolusi konflik. Menurunkan ego dan mencoba mengerti musuh ternyata bukanlah tanda sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bukti mutlak bahwa otak kita sedang bekerja di kapasitas tertingginya yang paling cerdas. Sebagai manusia, kita berevolusi tidak hanya untuk bertarung dan menaklukkan, tapi juga untuk terhubung satu sama lain. Jadi, lain kali saat kita berada di ambang pertengkaran yang hebat, mari coba menarik napas sejenak. Beri waktu beberapa detik agar amygdala kita tenang. Beri kesempatan bagi neuron cermin di kepala kita untuk mulai bekerja. Memahami musuh memang tidak selalu berarti kita harus menyetujui pendapat mereka. Tapi dengan mengerti dari mana mereka berasal, kita berhenti melihat monster. Kita mulai kembali melihat sesama manusia. Dan bukankah itu adalah langkah pertama menuju kedamaian yang sebenarnya?